Gunung Merbabu via Thekelan

Mendengar berita bahwa puncak Gunung Merbabu terbakar saya jadi ingat perjalanan saya selama setahun di Gunung Merbabu. Perjalanan yang dimulai tahun 2010 dan berakhir pada Tahun 2011. Tentu saja karena kami mendaki saat pergantian tahun.
Persiapan Perjalanan ke Gunung Merbabu (rumah Afrizal)
Gunung Merbabu Part I : Pos Tikus

"Angin kencang saat itu sungguh mengerikan. Badai es menyerang bertubi-tubi. Tentunya sangat sakit bila mengenai kulit. Tubuh seakan mati rasa menahan dinginnya suhu dibawah Puncak Kenteng Songo kala itu..." (Gozelmavna)


Gunung yang terletak bersebelahan dengan Gunung Merapi ini merupakan gunung dengan karakteristik yang sangat unik. Gunung Merbabu memiliki jalur pendakian yang terbanyak dibandingkan gunung-gunung di Indonesia lainnya. Selain itu, Gunung Merbabu juga memiliki banyak puncak. Khusus yang lewat jalur Thekelan, akan bisa melewati 7 puncak.

30 Desember 2010 :
Pendakian dimulai pukul 15.00 WIB setelah menempuh perjalanan Banjarnegara-Secang-Magelang-Kopeng-Thekelan menggunakan sepeda motor. Ber-enam kami memulai pendakian dengan semangat yang menggebu-gebu. Kami berjalan berurutan, Rizal, Davi, Hanif, Dita, SiTum, dan Ganjar. Ketua pendakian kali ini adalah SiTum.

Udara sore di lereng Gunung Merbabu membuat jiwa terasa tenang dan bisa menghapus penat.
Dari Basecamp Thekelan sampai dengan pos 1 kita lalui selama 45 menit. Duduk sebentar kamudian berfoto, kita langsung melanjutkan perjalanan ke pos 2 dengan 45 menit pula. Dengan agenda yang sama seperti d pos 1, kita langsung menuju pos 3. Kali ini medannya lumayan curam, hanya saja jarak dari pos 2 menuju pos 3 tidak terlalu jauh. Sepanjang jalan terlihat ladang perkebunan penduduk dan tebing-tebing putih yang menjulang tinggi, keunikan Merbabu mulai dirasa disini.

Pukul 17.15 WIB kami sampai di POS III, semula kami hanya ingin beristirahat sebentar disini. Namun ternyata alam berkata lain. Hujan turun cukup deras dan kami tidak mungkin melanjutkan perjalanan. Setelah ditunggu sampai pukul 18.00 ternyata hujan tak reda juga. Akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan camp disini.

Perut terasa lapar, masak menjadi satu satunya pilihan. Salah satu yang saya suka dari pendakian ini adalah bekal yang kami bawa untuk kebutuhan konsumsi cukup memadai. Tidak seperti yang dibayangkan banyak orang kalau mendaki gunung hanya membawa bekal mie instant.

Sebuah kehebohan terjadi disini. Ternyata tidak hanya kami (manusia) yang menempati pos ini. Ada beberapa tikus yang sepertinya adalah penghuni asli tanah di pos 3 ini. Terdapat segerombolan tikus hutan dengan warna abu-abu tua dan sungut kecil di ujung hidungnya. Dengan banyaknya tikus disini, seakan pos 3 lebih layak di beri nama pos "tikus". Kebetulan beberapa diantara kami takut akan tikus. Bahkan Davi meskipun seorang cowok, seolah dia punya phobia tikus. Malapetaka terjadi ketika saya berhasil menangkap salah satu tikus dan berniat untuk menakut2i yang lain. Tikus itu lepas dari genggaman saya dan masuk kedalam tenda dome. Kegemparan terjadi, aksi kejar kejaran tak dapat dihindari. Malam itu, tikus lah yang mewarnai kebersamaan kami di pos 3. Dibawah dinginnya malam di Merbabu dengan keindahan fatamorgana di langit yang gemerlapan.
Base Gunung Sumbing Merbabu (Thekelan)
Foto bersama sebelum mulai pendakian
Davi, Ganjar, Rizal, SiTum, Dita, Hanif

Perjalanan dimulai dengan melewati ladang penduduk
Gunung Merbabu Pos Satu
Pos 2 Gunung Merbabu
Pos 3, tempat kami mendirikan tenda
Siap siap untuk masak
Resep masakan di gunung yang cukup aneh
Makaaaaaaaaan!!
Maknyus!
Catatan perjalanan Gunung Merbabu Part II segera menyusul. Saya kasih bocoran saja salah satu foto dalam lanjutan catatan perjalanan ini. (Cukup Ekstrim)
Tebing yang harus dilewati sebelum mencapai puncak Gunung Merbabu, disinilah badai es terjadi!
*catatan dibuat oleh gozelmavna dan diedit seperlunya oleh gsgumilar

2 comments:

  1. itu ada caption foto yg salah.... "Base Gunung Sumbing (Thekelan)"
    kan judulnya ke Merbabu,gan...CMIIW ^_^

    ReplyDelete

Komentar mencerminkan siapa anda. Jika anda sopan saya pun segan