Gunung merbabu - Ini adalah lanjutan dari catatan perjalanan Gunung Merbabu jalur Thekelan Part 1.
"Malam terdingin menghampiri kami. Disaat orang lain menghabiskan malam terakhir di tahun 2010 dengan pesta pesta meriah, pelukan pelukan yang hangat, serta kebersamaan dengan orang orang tersayang, Kami malah memilih bercinta dengan tanjakan dan jurang jurang curam, dan terus saja ditemani badai es yang tak terlupakan."
Pagi ini saya mencoba menjadi pahlawan. Selagi yang lain masih tidur, saya dan SiTum terbangun dan mencoba membuat kejutan. Bermaksud memasak untuk kami berenam. Namun ada satu masalah, kami sama sekali tak bisa merubah beras menjadi nasi yang layak makan. Alhasil nasi laduk tetap kami makan dengan lauk yang dimasak tanpa resep yang jelas!
Namun hasil masak kami pagi itu, sungguh menakjubkan. 4 sehat 5 sempuna dan 6 bahagia. Kami makan bersama-sama. Prinsip kami, weteng ngelih pikiran ngalih. Setelah makan, kami pun packing. Lalu melanjutkan perjalanan menuju pos 4. Medannya full trekking dan curam. Meski jarak tidak sampai 1 km, namun cukup melelahkan. Sesampainya di pos 4, kami bertemu pendaki lain yang bermalam disana.
Tidak berlama-lama, kami langsung saja melanjutkan perjalanan menuju Puncak 1 yaitu Watu Gubug.
| Masakan gunung, 4 sehat 5 sempurna 6 bahagia |
| Melanjutkan perjalanan dari pos 3 |
| Puncak Pertama Gunung Merbabu |
| Puncak Menara (3) Gunung Merbabu |
| Gunung Merbabu Pos 4 |
Kesakralan di watu gubug dan keindahannya menjadi keunikan tersendiri. Dari sini terlihat Puncak 2 (Puncak Menara) yang menjulang tinggi seolah merayu kami untuk segera menuju kesana. Perjalanan kami lanjutkan menuju puncak menara. Di puncak menara kami tiba sekitar pukul 12.00. Di sini kami juga bertemu pendaki lain. Yang membuat kagum adalah pendaki dari Jakarta, yang datang jauh-jauh dengan misinya “Bersih-bersih Gunung”. Mereka mengumpulkan sampah-sampah yang ada di Merbabu untuk dibawa turun. Sungguh Pencinta Alam sejati.
![]() |
| Jalur yang cukup sulit |
Sedikit mengisi perut kami dengan roti tawar + keju, perjalanan kami lanjutkan menuju puncak 3 atau lebih dikenal sebagai Geger Sapi. Di Geger Sapi ini kami masak dan makan siang. Menu kali ini sederhana saja, karna kami tidak ingin berlama-lama disini.
Setelah Geger sapi, kami menuju Simpangan. Dimana disana merupakan persimpangan menuju puncak Syarif (arah kiri) dan Ondorante, Kentengsongo, serta Puncak Triangulasi (arah kanan). Di Simpangan kabut sangat tebal. Jarak pandang tidak lebih dari 10 meter. Hujan turun dengan deras, ditambah angin yang sangat kencang. Kami semua kebingungan menentukan arah kanan ataukah kiri. Setalah bertanya kepada seorang pendaki yang kami temui, akhirnya kami memilih untuk menuju arah 3 puncak.
Tidak lama, kami sampai di bawah puncak Kenteng Songo. Namun, jalur menuju puncak sangat curam dengan jurang disana-sini. Cuaca yang buruk menambah sulitnya jalur itu. Kami memutuskan untuk kembali ke selter yang kami temui saat berjalan menuju Kentengsongo.
Tapi…
Butiran-butiran putih sebesar kacang polong berjatuhan dari arah datangnya angin. Satu butiran mengenai pelipis mataku. Sakit sekali rasanya. Aku tidak tahu apa itu, sampai Hanif di belakangku berteriak bahwa ternyata sedang Badai Es, dan butiran tadi itu ternyata es yang amat keras.
Bertubi-tubi es berjatuhan. Bahkan Dita sempat berteriak kesakitan karena tubuhnya tidak terlindungi. Beda halnya dengan SiTum, yang dengan bangganya berteriak “Horee! Hujan Es!!!”.
Saat itu hanya aku yang terdiam, bukan karena sedang berfikir, tapi karena tak bisa bicara akibat terpeleset dan terpelanting.
Kami semua dengan cepat memutuskan untuk segera mencari selter. Termometer dikeluarkan, menunjukan 7 drajat Celsius. Tanganku seolah beku. Pakaian dan jaket yang basah menambah dinginnya tubuh.
Benar-benar dingin dan amat sangat dingin.
Setelah dome didirikan, kami langsung bergiliran mengganti pakaian kami dengan yang masih kering. Namun tak banyak dari barang kami yang masih kering di dalam carrier. Bahkan SB yang masih bisa diselamatkan hanya 2, dan itu untuk berenam.
Terlihat SiTum kedinginan. Dia diam terus menerus dan duduk termenung berselimut sarung. Beda sekali dengan sebelumnya yang selalu ramai sendiri.
Untuk mengurangi rasa dingin, kami mebuat minuman hangat dan saling bercanda ria. Angin di luar dome sangat kencang. Bahkan dome pun bergoyang-goyang tanpa henti.
Malam terdingin menghampiri kami. Disaat orang lain menghabiskan malam terakhir di tahun 2010 dengan pesta pesta meriah, pelukan pelukan yang hangat, serta kebersamaan dengan orang orang tersayang, Kami malah memilih bercinta dengan tanjakan dan jurang jurang curam, dan terus saja ditemani badai es yang tak terlupakan.
Berniat melihat matahari pertama kali di tahun 2011 dari puncak Gunung Merbabu, kami malah disuguhi kabut dan angin yang tak kunjung berhenti. Baru sekitar pukul 10.00 pagi kami melihat matahari. Itu pun tak lebih dari satu menit sebelum tertutup oleh kabut lagi :(
Sebenarnya cerita belum berakhir disini. Sore hari ketika kami tiba dibawah (basecamp), kami mendapati kenyataan yang tak bisa dihindari. Saat ini juga kami harus menempuh perjalanan pulang dari Thekelan (Magelang) ke Banjarnegara dengan sepeda motor, kurang lebih 5 jam perjalan. Dan senangnya, kami ditemani hujan lebat hampir disepanjang perjalanan.
| Gunung Merapi yang indah, namun kami tak pernah melihatnya dalam pendakian ini |














Jadi tertarik dengan hoby tersebut...
ReplyDeleteWah sudah lama tidak naik gunung, masih kuat gak ya.... :)
ReplyDeletejembatan setan.....ora ana fotone deneng ya ??
ReplyDeletejadi total naik turun plus istirahat berapa jam ya? lebaran 2012 ini mau ke merbabu... =)
ReplyDeletetrims.